Tampilkan postingan dengan label Adab dan Akhlaq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab dan Akhlaq. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Mei 2013

Sombong dan Pengaruhnya Dalam kehidupan

Sombong atau yang sering kita kenal dengan istilah kibr, takabur dan istikbar -ketiganya hampir semakna-, merupakan suatu kondisi seseorang di mana ia merasa lain dari yang lain (dengan keadaan tersebut) sebagai pengaruh i’jab (kebanggaan) terhadap diri sendiri, yaitu dengan adanya anggapan atau perasaan, bahwa dirinya lebih tinggi dan besar daripada selainnya.

Maka tidak akan berlaku sombong, kecuali orang yang merasa dirinya besar dan tinggi, dan ia tidak merasa tinggi atau besar, kecuali karena adanya keyakinan, bahwa dirinya memiliki keunggulan, kelebihan dan kesempurnaan yang dengannya ia menganggap berbeda dengan orang lain.

Ada beberapa sebab yang mendorong seseorang menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain, sehingga melahirkan kesombongan dalam jiwa, yaitu:

1. Sombong dengan Ilmu
Ada sebagian thalib ilmu atau orang yang diberi pengetahuan oleh Allah, namun malah justru menjadikan dirinya sombong. Ia merasakan dirinyalah yang paling pandai (alim), menganggap rendah orang lain, menganggap bodoh mereka dan selalu ingin agar dirinya mendapatkan penghormatan, pelayanan dan fasilitas khusus dari mereka. Dia memandang, bahwa dirinya lebih mulia, tinggi dan utama di sisi Allah daripada mereka.

Ada dua faktor yang menyebabkan seseorang menjadi sombong dengan ilmunya:

Pertama, Ia mencurahkan perhatian terhadap apa yang ia anggap sebagai ilmu, padahal hakikatnya ia bukanlah ilmu. Ia tak lebih sebagai data atau informasi yang direkam dalam otak yang tidak memberikan buah dan hasil, karena ilmu yang sesungguhnya akan semakin membuat ia kenal siapa dirinya dan siapa Rabbnya. Ilmu yang hakiki akan melahirkan sikap khosyah (takut kepada Allah) dan tawadhu’ (rendah hati), bukan sombong, sebagai-mana firman Allah I ,

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Faathir : 28)

Ke dua, Al-khoudl fil ilm yaitu belajar dengan tujuan agar dapat berbicara banyak, berdebat dan menjatuhkan orang dengan kepiawaian yang dimilikinya, sehingga orang menilainya sebagai orang alim yang tak terkalahkan ilmu-nya. Selayaknya ia lebih dahulu memperbaiki hati dan jiwanya, membersihkan dan menatanya, sehingga tujuan dalam mencari ilmu menjadi benar dan lurus. Karena merupakan karakteristik khas dari ilmu, bahwasanya ia menjadikan pemiliknya bertambah takut kepada Allah dan tawadhu’ terhadap sesama manusia. Ibarat pohon tatkala banyak buahnya, maka ia semakin merunduk dan merendah, sehingga orang akan dengan lebih mudah mendapatkan kebaikan dan manfaat darinya.

Orang, apabila telah hobi mengumbar omongan, bantah-bantahan dan debat kusir, maka ilmunya justru akan melemparkannya kepada kedudukan yang rendah dan pengetahuan yang dimilikinya tidak akan membuahkan hasil yang baik, sehingga keberkahan ilmu tidak tampak sama sekali.

2. Sombong dengan Amal Ibadah

Kesombongan ahli ibadah dari segi keduniaan adalah ia menghendaki, -atau paling tidak membuat kesan-, agar orang lain menganggapnya sebagai orang yang zuhud, wara’, taqwa dan paling mulia di hadapan manusia. Sedangkan dari segi agama adalah ia memandang, bahwa orang lain akan masuk neraka, sedang dia selamat darinya.

Sebagian ahli ibadah apabila ada orang lain yang membuatnya jengkel atau merendahkannya, maka terkadang mengeluarkan ucapan, “Allah tidak akan mengampunimu atau, “Kamu pasti masuk neraka” dan yang sejenisnya. Padahal ucapan-ucapan tersebut dimurkai Allah, yang justru dapat menjerumuskannya ke dalam neraka.

3. Sombong dengan Keturunan (Nasab)

Barangsiapa yang mendapati kesombongan dalam hati karena nasabnya, maka hendaknya ia segera mengobati hatinya itu.

Jika seseorang akan mencari nasabnya, maka perhatikan firman Allah I berikut ini,

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).” (QS. 32:7-8)

Inilah nasab manusia yang sebenarnya, kakeknya yang terjauh adalah tanah, dan nasabnya yang terdekat adalah nuthfah alias air mani. Jika demikian keadaannya, maka tak selayaknya seseorang sombong dan merasa tinggi dengan nasabnya.

4. Sombong dengan Kecantikan/Ketampanan

Kesombongan seperti ini banyak terjadi di kalangan para wanita, yaitu dengan menyebut-nyebut kekurangan orang lain, menggunjing dan membicarakan aib sesama.

Seharusnya orang yang sombong dengan kecantikannya ini banyak menengok ke dalam hatinya. Untuk apa anggota tubuh yang indah, namun hati dan perangai buruk, padahal tubuh secantik apa pun pasti akan binasa, hancur dan hilang tak tersisa.

Belum lagi kalau orang mau merenungi, bahwa selagi masih hidup, maka mungkin saja Allah berkehendak untuk mengubah kecantikan atau ketampanannya, misalnya dengan mengalami kecelakaan, sakit kulit, kebakaran dan lain sebagainya, yang dapat menjadikan rupa yang cantik menjadi buruk. Maka dengan kesadaran seperti ini, insya Allah rasa sombong yang ada dalam hati akan terkikis dan bahkan tercabut hingga ke akar-akarnya.

5. Sombong dengan Harta

Yaitu dengan memandang rendah orang fakir dan bersikap congkak terhadap mereka. Ini disebabkan harta yang dimilikinya, perusahaan-perusahaan yang banyak, tanah dan bangunan, kendaraan mewah, perhiasan dan lain sebagainya. Kesombongan karena harta termasuk kesombongan karena faktor luar, dalam arti bukan merupakan potensi pribadi orang yang bersangkutan. Berbeda dengan ‘ilmu, amal, kecantikan atau nasab, sehingga apabila harta itu hilang, maka ia akan menjadi hina sehina-hinanya.

6. Sombong dengan Kekuatan dan Kegagahan

Orang yang mendapatkan karunia seperti ini hendaknya menyadari, bahwa kekuatan adalah milik Allah seluruhnya. Hendaknya selalu ingat, bahwa dengan sedikit sakit saja akan membuat badan tidak enak, istirahat tidak tenang. Kalau Allah menghendaki, seekor nyamuk pun dapat membuat seseorang sakit dan bahkan hingga menemui ajalnya.

Orang yang mau memikirkan ini semua, yaitu sakit dan kematian yang bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja, maka sudah sepantasnya tidak angkuh dan takabur dengan kekuatan dan kesehatan badannya.

7. Sombong dengan Banyaknya Keluarga, Kerabat atau Pengikut.

Kesombongan jenis ini juga merupakan kesombongan yang disebabkan faktor luar, bukan karena kelebihan yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Dan setiap orang yang sombong karena sesuatu yang bukan dari kelebihan dan keunggulan dirinya sendiri, maka dia adalah sebodoh-bodoh manusia. Bagai-mana mungkin ia sombong dengan sesuatu yang bukan merupakan kelebih-an dirinya?

PENGARUH KESOMBONGAN

Kesombongan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan, dan pengaruh-pengaruh tersebut tampak dalam gerak-gerik anggota badan, cara berjalan, berdiri, duduk, berbicara dan diamnya seseorang.

Di antara pengaruh-pengaruh yang tampak dari sikap kesombongan adalah:

1. Orang yang sombong kalau toh mau berjalan bersama-sama orang lain, maka ia selalu minta paling depan dan semua orang harus ada di belakangnya. Konon Abdur Rahman bin ‘Auf y, kalau sedang berjalan bersama para pembantunya, maka tidak ketahuan ada disebelah mana, ia tidak pernah menonjolkan diri harus berada paling depan supaya semua orang melihatnya.

2. Orang sombong jika berada di suatu majlis, biasanya minta diistimewakan, diperlakukan lain daripada yang lain. Kemudian ia akan sangat senang kalau semua orang mendengarkan yang ia katakan dan sangat benci kalau ada orang lain mengalihkan pembicaraan kepada selainnya. Maunya semua orang harus membenarkan dan menerima apa yang ia katakan.

3. Termasuk pengaruh sifat sombong adalah memalingkan muka dari sesama muslim, atau melihat dengan pandangan sinis dan merendahkan.

4. Kesombongan juga berpengaruh bagi seseorang dalam ucapan, gaya bicara dan nada intonasinya. Bahkan terkadang mencerminkan ketidaksopanan, misalnya seorang murid atau mahasiswa menghardik gurunya, karena ia merasa anak seorang pejabat atau tokoh.

5. Kesombongan juga akan mempengaruhi gaya jalan seseorang, misalnya sambil membusungkan dadanya, atau berjalan dengan dibuat-buat agar menarik perhatian orang lain. Allah I telah berfirman,
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. 17:37)

6. Kesombongan juga berpengaruh di dalam kehidupan rumah tangga. Biasanya orang yang dalam hatinya ada kesombongan akan enggan mengerjakan pekerjaan rumah, walau hanya sepele. Hal ini berbeda dengan sikap tawadhu’ yang diajarkan oleh Rasulullah r. Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, bahwa Rasul Allah I biasa membantu istri beliau.

7. Merupakan pengaruh kesombongan juga, bahwasanya ia membuat seseorang enggan membawakan barang atau sesuatu ke rumahnya, meskipun bukan hal yang berat, misalnya saja barang belanjaan. Ali berkata, “Seseorang tidak akan berkurang kesempurnaannya dengan membawakan sesuatu untuk keluarganya.”

8. Kesombongan juga mempengaruhi gaya berpakaian seseorang, yaitu ia berpakaian dengan tujuan pamer dan supaya terkenal, atau dengan pakaian yang melanggar ketentuan syar’i, seperti isbal (memanjangkan celana di bawah mata kaki) bagi laki-laki.

9. Orang yang sombong biasanya sangat senang apabila ia datang, lalu orang-orang berdiri untuk menghormatnya. Padahal para shahabat apabila datang Rasulullah r kepada mereka, maka mereka tidak berdiri untuk beliau, hal ini dikarenakan mereka tahu, bahwa Rasulullah r membenci hal itu.

10. Orang yang dalam hatinya ada kesombongan tidak akan mau mengunjungi orang lain, tidak mau mengucapkan salam lebih dahulu, minta supaya diprioritaskan dan tidak mau mendahulukan kepentingan orang lain. 11. Kesombongan juga akan mengakibatkan seseorang tidak memandang adanya hak orang lain pada dirinya. Sementara itu ia beranggapan, bahwa ia memiliki hak yang banyak atas selainnya.
readmore »»  

Minggu, 05 Mei 2013

Tuntunan Para Rasul dalam Memelihara Kesucian Jasmani

Seorang Muslim dengan pengakuan-nya sebagai pemeluk agama Islam mestinya segala segi kehidupannya terikat oleh tuntunan kitab Rabbnya dan sunnah Rasulnya. Dia tidak boleh melampaui tuntunan yang telah digariskan Allah dan Rasul-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinya: "Dan tidak patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak pula bagi perempuan yang mu'minah, apabila Allah dan Rasulnya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) dari urusan mereka." (Al-Ahzab: 36)

"Dan apa yang telah dibawa oleh Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya maka tinggalkan-lah." (Al-Hasyr: 7)

Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bersabda, artinya: "Tidak (sempurna) iman seorang di antara kamu sehingga keinginannya mengikuti apa yang aku bawa." (Hadits Shahih sebagaimana yang dikatakan An-Nawawi dalam Al-Arba'in)

Maka dari itu, seorang Muslim wajib melaksanakan tuntunan fithroh yang telah digariskan Allah melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wasalam :

"Lima hal termasuk bagian fitroh, yaitu khitan, istihdad (mencukur bulu kemaluan), memotong kuku, mencabuti rambut ketiak dan memotong kumis." (HR. Al-Bukhari Muslim)

Sabdanya pula: "Sepuluh hal termasuk bagian fitroh: Memotong kumis, membiarkan jenggot (panjang), siwak, istinsyaq, memotong kuku, mencuci sela lipatan jari, mencabuti rambut ketiak, mencukur rambut di sekitar kemaluan, dan istinja", seorang perowi berkata: "Saya lupa yang kese-puluh, mungkin kumur-kumur". (HR. Muslim)

Dari kedua hadits itu, kita bisa menjabarkan sebagai berikut:
  1. Memotong kumis
Banyak hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam yang memerintahkan agar setiap muslim memotong kumis yang mengulur pada bibirnya.

"Dan potonglah kumis-kumis itu." (HR. Bukhari Muslim)

Ada beberapa riwayat lain yang kesemuanya menggunakan fi'il amr (perintah) dengan lafazh yang berbeda namun maknanya sama.
Dalam hadits shahih Riwayat At-Tirmidzi disebutkan, artinya: "Barangsiapa yang tidak memotong kumisnya, maka dia bukan termasuk dari (golongan) kami."

Ibnu Hazm Radhiallaahu anhu berkata: "Ada ijma' yang menetapkan bahwa memotong kumis dan membiarkan jenggot (panjang) adalah fardhu." (Tahrim Halq AlIiha: 7)
  1. Membiarkan jenggot panjang
Jenggot adalah rambut yagn tumbuh di kedua pipi dan dagu (Tahrim Halq AlIiha: 5)
Banyak hadits yang mewajibkan seorang muslim membiarkan jenggot-nya panjang tanpa sedikitpun memo-tongnya apalagi mencukurnya sampai bersih, di antaranyaRasul Shallallahu alaihi wasalam bersabda:

"Maka biarkanlah jenggot-jenggot itu." (HR. Bukhari Muslim).

Dalam hadits lain disebutkan, artinya: "Kami diperintahkan untuk memotong kumis dan membiarkan jenggot." (HR. Muslim)
Syaikul Islam Ibnu Taimiyah berkata: "Mencukur jenggot adalah haram."
Al-Qurthubi berkata: "Tidak boleh mencukur jenggot, mencabuti dan juga memotongnya."
Ibnu Hazm meriwayatkan ijma bahwa memotong kumis dan membiarkan jenggot adalah fardhu. (Tahrim Halq AlIiha, Abdurrahman Ala'shimi Al Hambali: 7)

Jenggot adalah perhiasan laki-laki yang merupakan lambang kesempurnaan. Ini membedakan laki-laki dan perempuan. Mencabutinya di awal pertumbuhan merupakan kemungkaran-yang besar. An-Nawawi dan Al Ghazali berkata: "Umar bin Khaththab, Ibnu Laila, Umar bin Abdul Aziz menolak kesaksian orang yang mencukur atau mencabuti jenggotnya."

Tapi jika kita melihat umat Islam zaman sekarang, mereka cenderung melakukan sebaliknya. Mereka mencukur jenggot dan membiarkan kumis menjulur ke bibirnya. Sungguh mengherankan.
  1. Khitan
Khitan laki-laki adalah memotong semua qulfah (kulit) yang menutupi ujung dzakar, sedangkan wanita adalah memotong bagian kulit yang menonjol (ke atas) farjinya saja.

Khitan merupakan sunnah Nabi Ibrahim. Nabi Shallallahu alaihi wasalam bersabda, artinya: "Ibrahim Khalilur Rahman berkhitan setelah menginjak usia 80 tahun dan beliau berkhitan dengan kapak." (HR Al-Bukhari)

Berkhitan boleh setelah baligh. Ibnu Abbas ditanya: "Seusia siapa engkau tatkala Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam meninggal dunia?" Ibnu Abas berkata: "Saya pada waktu itu sudah dikhitan, dan orang-orang (jaman itu) tidak mengkhitan laki-laki hingga dia baligh." (HR. Al-Bukhari)

Di antara fungsi khitan bagi laki-laki adalah membuang tempat bersarangnya kotoran dan najis. Sedang bagi wanita adalah (di antaranya) untuk menstabilkan rangsangan syahwatnya. Jika dikhitan terlalu dalam bisa membuat dia tidak memiliki hasrat sama sekali, sebaliknya, jika kulit yang menonjol ke atas vaginannya (Klitoris) tidak dipotong bisa berbahaya, karena kalau tergesek atau tersentuh sesuatu dia cepat terangsang. Maka Rasul Shallallahu alaihi wasalam bersabda kepada tukang khitan wanita (Ummu A'Thiyyah), artinya: "Janganlah kau potong habis, karena (tidak dipotong habis) itu lebih menguntungkan bagi perempuan dan lebih disenangi suami." (HR. Abu Dawud)

Tidak di khitan bagi wanita merupakan salah satu pendorong dia menjadi lesbian, karena jika dia menggesekkan klitorisnya pada klitoris temannya, maka dia akan merasakan kenikmatan yang sangat. Maka dari itu Islam menyuruh agar menstabilkan syahwatnya dengan cara khitan. (Ahkamun Nisa': 13)
  1. Mencukur rambut yang ada di sekitar kemaluan
Istihdaad (memotong bulu yang ada di sekitar kemaluan) dianjurkan atas laki-laki dan perempuan, di kala rambut kemaluannya sudah panjang.
  1. Memotong kuku
Tidak pantas dan tidak layak bagi seorang muslim membiarkan kukunya panjang atau sengaja memeliharanya, karena yang biasa berkuku panjang adalah hewan. Apalagi kotoran dan kuman senang sekali bersarang di bawah kuku yang panjang.
  1. Mencabuti Bulu Ketiak
Sunnahnya dicabuti, tapi kalau tidak kuat (sakit), tidak apa menghilangkannya dengan cara lain, selama tidak ber-bahaya, baik di cukur, di bubuhi obat dll.

Nabi Shallallahu alaihi wasalam telah memberikan waktu empat puluh hari untuk jangka membiarkan kumis, rambut ketiak, dan rambut kemaluan tumbuh, tidak boleh membiarkannya lebih lama dari itu.

Anas Ibn Malik berkata: "Bagi kami diberi waktu dalam pemotongan kumis, kuku, pencabutan rambut ketiak dan pencukuran rambut kemaluan, agar kami tidak membiarkannya lebih dari empat puluh malam." (HR. Muslim)
  1. Menggosok gigi/siwak
Mengosok gigi sangatlah dianjurkan, selain untuk kebersihan dan kesehatan, bersiwak juga mempunyai nilai ibadah yang sangat diridhai Allah. Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bersabda, artinya: "Siwak itu mensuci-kan mulut dan (sumber) Keridhoan Ar-Rabb." (HR. Ahmad, An Nasai, Bukhari, secara ta'liq).

Setiap hendak shalat disunnahkan menggosok gigi (bersiwak). Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bersabda, artinya: "Seandainya saya tidak memberatkan umat saya, tentu saya menyuruh mereka bersiwak setiap hendak shalat." (HR. Bukhari Muslim)

Karena takut memberatkan, beliau tidak mewajibkannya, tapi hanya mensunnahkan saja, begitu juga setiap hendak wudhu, sebagaimana sabdanya, artinya: "Seandainya saya tidak membe-ratkan umat saya, tentu saya memerin-tahkan mereka bersiwak (pada setiap wudhu)." (HR. Ahmad, An-Nasai, Al-Bukhari Taliqon, dan di shahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

Begitu juga ketika bangun tidur, Hudzaifah Radhiallaahu anhu berkata: "Adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bilamana bangun malam, beliau menggosok giginya dengan siwak." (HR. Bukhari – Muslim)

Siwak dianjurkan pula pada setiap kesempatan, dikatakan kepada Aisyah x: "Dengan apa Nabi Shallallahu alaihi wasalam memulai bila beliau masuk rumahnya?" Aisyah berkata: "Dengan siwak" (HR. Muslim)

Begitu juga meskipun dalam keadaan shaum, Amir Ibn Rabi'ah, berkata: "Tidak terhitung saya melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bersiwak dalam keadaan shaum." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi berkata: "Hadits ini Hasan").
  1. Beristinja
Beristinja (cebok) hukumnya wajib, bisa dengan air, batu atau benda lain yang dapat mensucikan, tapi air adalah yang paling utama Anas Ibn Malik berkata: "Adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam masuk jamban, maka saya bersama anak seusia saya membawa wadah berisi air dan tongkat lalu beliau beristinja dengan air." (Muttafaq 'Alaih)
  1. Memasukan air ke dalam hidung(istinsyaq) kemudian menyemburkannya (istintsar)
Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam jika berwudhu beliau beristinsyaq kemudian beristintsar. (HR. Bukhari Muslim)

Beliau juga berkata, artinya: "Jika seorang berwudhu, hendaklah dia mema-sukkan air kedalam hidungnya, kemudian menyemburkannya." (Muttafaq 'Alaih)

Bahkan orang yang sedang shaum pun dianjurkan untuk istinsyaq, hanya saja dilarang berlebihan, Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bersabda, artinya: "Dan bermuballaghoh lah (berlebih-lebihanlah) dalam istinsyaq kecuali jika kamu shaum." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Maja, dll. Di sahihkan oleh Tirmidzi dan An-Nawawi)
  1. Kumur-kumur (madhmadhah)
Adalah memasukan air ke dalam mulut, lalu diputar-putar di dalam, kemudian disemburkan.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam jika berwudhu senantiasa kumur-kumur terlebih dahulu. (HR. Bukhari – Muslim)

Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bersabda, artinya: "Jika kamu berwudhu, maka kumur-kumurlah." (HR. Abu Dawud dll, Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari: Isnadnya Shahih)
  1. Mencuci lipatan (sela) jari-jari
Lipatan/sela jari-jari merupakan tempat yang bisa ditempati kotoran, oleh sebab itu dianjurkan untuk dibersihkan. Begitu juga lipatan-lipatan lainya seperti ketiak, selengkangan dll.
readmore »»  

Kamis, 02 Mei 2013

Tempat tempat yang disyari’atkan membaca basmalah

Sungguh, banyak diantara kita yang mengaku sebagai ummat Islam. Namun sangat disayangkan Islam yang disandang hanyalah sebuah Nama saja dan kita tidak mengetahui ajaran dalam agama kita sendiri. terutama Sunnah-Sunnah yang diajarkan Oleh Nabi Kita Rasulullah Muhammad Shollallohu 'alaihi wasallam. inilah salah satu sunnah beliau yang mungkin dan bahkan kita tidak pernah melaksanakannya yaitu: Tempat tempat yang disyari’atkan membaca basmalah.

1. Hendak makan.

عن أبي حفص عمر بن أبي سلمة عبد الله بن عبد الأسد قال : كنت غلاما في حجر رسول الله صلى الله عليه وسلم وكانت يدي تطيش في الصفحة , فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يا غلام سم الله وكل بيمينك وكل مما يليك (متفق عليه).

Dari Abu Hafsh Umar bin Abi Salamah Abdullah bin Abdil Asad ia berkata : Aku seorang anak yang ada dalam asuhan Rosulullah sallalahu ‘alaihi wasallam, dan adalah tanganku berputar kesana kemari dalam nampan, maka Rosulullah sallallahu ‘alahi wasallam bersabda :” Wahai anak. Bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang dekat darimu “. (Muttafaq ‘alaih).

2. Hendak berjima’.

عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : لو أن أحدكم إذا أتى أهله قال : بسم الله اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا , فقضي بينهما ولد لم يضره .

Dari ibnu Abbas sesungguhnya Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :” seandainya salah seorang dari kalian apabila hendak mendatangi istrinya berkata :” Ya Allah, jauhkanlah kami dari Setan, dan jauhkan Setan dari rizki yang Engkau berikan kepada kami “. Lalu ditakdirkan untuk keduanya anak, niscaya (setan) tidak akan memberinya mudlarat “. (Muttafaq ‘alaih).

3. Meletakkan mayat.

Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

قال إذا وضعتم موتاكم في القبر فقولوا بسم الله وعلى ملة رسول الله .

Dari ibnu Umar, Rosulullah sallalahu ‘alaihi wasallam bersabda :” Apabila kalian meletakkan mayat kalian dalam qubur, ucapkanlah :” bismillah wa ‘ala millati Rosulillah “. (Bismillah dan di atas millati Rosulillah). (HR Ahmad, ibnu Majah dan lainnya).

4. Menyembelih

Allah Ta’ala berfirman :

وَلاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

“ Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya, sesungguhnya perbuatan semacam itu adalah suatu kefasikan…”. (QS Al An’am 6 : 121).

Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ما أنهر الدم وذكر اسم الله فكل

“ (Binatang) yang dialirkan darahnya dan disebutkan nama Allah maka makanlah…”. (HR Bukhari dan Muslim).

5. Hendak buang air

Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ستر ما بين الجن و عورات بني آدم إذا دخل أحدهم الخلاء أن يقول : بسم الله .

“ penutup antara Jinn dan aurat anak Adam apabila salah seorang dari mereka masuk wc, yaitu mengucapkan : bismillah “. (HR ibnu Majah dan lainnya).

6. Ketika jengkel.

عن أبي المليح عن رجل قال كنت رديف النبي فعثرت دابته فقلت تعس الشيطان فقال لا تقل تعس الشيطان فإنك إذا قلت ذلك تعاظم حتى يكون مثل البيت ويقول بقوتي ولكن قل بسم الله فإنك إذا قلت ذلك تصاغر حتى يكون مثل الذباب

Dari Abul Malih dari seseorang ia berkata :” Aku membonceng nabi sallallahu ‘alaihi wasallam, lalu untanya terpeleset, maka aku berkata :” Celaka setan ! beliau bersabda :” Jangan engkau katakan : Celaka Setan, karena jika engkau katakan demikian maka setan akan menjadi besar sehingga sebesar rumah, ia berkata :” Dengan kekuatanku”. Akan tetapi katakan :” Bismillah “, maka jika engkau katakan demikian ia akan menjadi kecil sehingga menjadi sebesar lalat “. (HR Abu Dawud dan lainnya).

7. Masuk rumah.

عن جابر بن عبد الله أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقول : إذا دخل الرجل بيته فذكر الله عند دخوله وعند طعامه قال الشيطان : لا مبيت لكم ولا عشاء . وإذا دخل فلم يذكر الله عند دخوله قال الشيطان : أدركتم المبيت . وإذا لم يذكر الله عند طعامه قال : أدركتم المبيت والعشاء .

Dari Jabir bin Abdillah bahwa ia mendengar Nabi sallalahu ‘alaihi wasallam bersabda :” Apabila seseorang masuk rumahnya dan menyebut nama Allah ketika masuknya dan ketika makannya, setan berkata :” tidak ada tempat bermalam dan makan malam untuk kalian “. Dan apabila masuk tidak menyebut nama Allah ketika masuknya, setan berkata :” Kalian mendapatkan tempat bermalam “. Dan apabila tidak menyebut nama Allah ketika makannya, setan berkata :” kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan “. (HR Muslim).

8. Keluar rumah.

عن أنس بن مالك أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إذا خرج الرجل من بيته فقال بسم الله توكلت على الله لا حول ولا قوة إلا بالله قال يقال حينئذ هديت وكفيت ووقيت فتتنحى له الشياطين فيقول له شيطان آخر كيف لك برجل قد هدي وكفي ووقي .

Dari Anas bin Malik sesungguhnya nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :” Apabila seseorang keluar dari rumahnya dan membaca : “ bismillah aku bertawakal kepada Allah, dan tiada daya dan upaya kecuali dengan (idzin) Allah “. Akan dikatakan pada waktu itu :” engkau diberi hidayah, dicukupi dan dilindungi “, setan pun menyingkir darinya, dan setan lain akan berkata kepadanya :” Bagaimana engkau akan dapat mengganggu orang yang dikatakan padanya :” telah diberi hidayah, dicukupi dan dilindungi “. (HR Abu dawud, At Tirmidzi dan lainnya).

9. Menulis surat.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengirim surat kepada Heraklius, yang bunyinya :” bismillahirrahmanirrahim dari Muhamad hamba Allah dan Rosul-Nya kepada Heraklius pembesar Romawi, keselamatan atas orang yang mengikuti hidayah, amma ba’du : Sesungguhnya aku menyerumu dengan seruan islam, masuk islamlah niscaya engkau akan selamat dan Allah akan memberimu dua kali pahala, dan jika engkau berpaling maka engkaulah yang akan menanggung dosa rakyatmu lalu beliau membacakan firman Allah surat Ali Imran : 64 “. (HR Bukhari).

10. Ruqyah.

Diantara ruqyah yang beliau ucapkan adalah :

بسم الله أرقيك من كل شيء يؤذيك ومن شر كل نفس أو عين حاسد , الله يشفيك بسم الله أرقيك .

“ Bismillah aku meruqyahmu, dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari dari kejahatan seluruh jiwa atau mata yang dengki, Allah yang menyembuhkanmu, bismillah aku meruqyahmu “. (HR Muslim).

11. Hendak berwudlu.

لا صلاة لمن لا وضوء له ولا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه .

“ Tidak sah sholat bagi orang tidak berwudlu dan tidak sah wudlu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah padanya “. (HR Abu Dawud, ibnu Majah, Ahmad dan lainnya).

12. Menutup pintu, memadamkan lampu, dan menutup bejana.

إذا استنجح الليل أو كان جنح الليل فكفوا صبيانكم فإن الشياطين تنتشر حينئذ , فإذا ذهب ساعة من العشاء فخلوهم وأغلق بابك واذكر اسم الله وأطفئ مصباحك واذكر اسم الله وأوك سقاءك واذكر اسم الله وخمر إناءك واذكر اسم الله .
“ Apabila malam telah menjelang –atau apabila berada di awal malam- maka tahanlah anak anak kalian, karena pada waktu itu syetan syetan bertebaran, dan apabila telah pergi sesaat dari waktu isya maka biarkanlah mereka, tutuplah pintumu dan bacakan padanya nama Allah, padamkan lampu dan baca nama Allah, ikat siqo’ mu (bejana yang terbuat dari kulit untuk menyimpan air) dan baca nama Allah, tutup bejanamu dan baca nama Allah walaupun engkau hanya melintangkan diatasnya sesuatu “. (HR Bukhari dan Muslim).
 
 
Semoga kitasemua bisa mengamalkan sunnah diatas..
"janganlah menganggap enteng kebaika sekecil apapun itu. karena boleh jadi, amalan tersebut kecil tapi disisi Allah pahalanya sangat besar. begitu pun sebaliknya".
readmore »»  

Senin, 15 April 2013

Ghibah


assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Betapa banyak kaum muslimin yang mampu untuk menjalankan perintah Allah  dengan baik, bisa menjalankan sunnah-sunnah Nabi , mampu untuk menjauhkan dirinya dari zina, berkata dusta, minum khomer, bahkan mampu untuk sholat malam setiap hari, senantiasa pusa senin kamis, namun…..mereka tidak mampu menghindarkan dirinya dari ghibah. Bahkan walaupun mereka telah tahu bahwasanya ghibah itu tercela dan merupakan dosa besar namun tetap saja mereka tidak mampu menghindarkan diri mereka dari ghibah.

Apasih sebenarnya yang dimaksud dengan ghibah..??

Rasulullah telah menjelaskan kita dalam Haditnya yang berbunyi:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ ,أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدِ اْغْتَبْتَهُ, وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ
Dari Abu Huroiroh, bahwsanya Rosulullah  bersabda : Tahukah kalian apakah ghibah itu? Sahabat menjawab : Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. Nabi berkata : “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi ditanya : Bagaimanakah pendapatmu jika itu memang benar ada padanya ? Nabi menjawab : “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”.

           
Allah benar-benar telah mencela penyakit ghibah ini dan telah menggambarkan orang yang berbuat ghibah dengan gambaran yang sangat hina dan jijik. Berkata Syaikh Nasir As-Sa’di : “Kemudian Allah U menyebutkan suatu permisalan yang membuat (seseorang) lari dari gibah. Allah U berfirman :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qç7Ï^tGô_$# #ZŽÏWx. z`ÏiB Çd`©à9$# žcÎ) uÙ÷èt/ Çd`©à9$# ÒOøOÎ) ( Ÿwur (#qÝ¡¡¡pgrB Ÿwur =tGøótƒ Nä3àÒ÷è­/ $³Ò÷èt/ 4 =Ïtär& óOà2ßtnr& br& Ÿ@à2ù'tƒ zNóss9 ÏmŠÅzr& $\GøŠtB çnqßJçF÷d̍s3sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# Ò>#§qs? ×LìÏm§ ÇÊËÈ  
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka,, karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah sebagian kalian mengghibahi (menggunjing) sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mat?, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih. (Al Hujurat ayat 12)

Allah telah menyamakan mengghibahi saudara kita dengan memakan daging saudara saudara kita sendiri yang telah menjadi bangkai yang hal ini sangat dibenci oleh jiwa-jiwa manusia dan meruapakan sepuncak-puncaknya kebencian. Sebagaimana kita membenci memakan dagingnya dalam keadaan hidup -apalagi dalam keadaan bangkai, tidak bernyawa- maka seharusnya kita pun membenci untuk mengghibahi saudara kita. Memakan bangkai hewan saja sangatlah  menjijikkan bagi kita, namun hal ini masih lebih baik daripada memakan daging saudara kita sendiri.

Maka mari kita senantiasa menjaga diri kita terutama lisan kita agar tidak menggibahi saudara-saudara kita. Karena perbuatan tersebut adalah perbuatan dosa. Dan seburuk-buruk tempat kembali bagi pelaku dosa dan maksiat adalah Neraka Jahannam..

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
readmore »»